Hubungan antarpribadi
memainkan peran penting dalam membentuk kehidupan kita. Orang memerluka
hubungan antarpribadi terutama untuk dua hal, yaitu perasaan (attachment) dan
ketergantungan (dependency). Teori-teori yang menjelaskan berkembangnya suatu
hubungan antara lain adlah self disclosure, yaitu proses mengungkapkan
informasi pribadi kepada orang lain dan sebaliknya. Teori lain, yaitu social
penetration mengemukakan bahwa bahwa orang saling mengenal atau memahami
melalui tahap mengungkapkan informasi yang superficial sampai kepada informasi
yang pribadi. Sementara Steven Duck dengan pendekatan process view menyatakan
bahwa hubungan tidak berkembang, dan hubungan dapat sekaligus stabil dan
memuaskan. Sedangkan teori social exchange mnenjelaskan bahwa orang sebenarnya
mneggunakan prinsip ekonomi dalam suatu hubungan. Yaitu dengan mempertimbangkan
kontribusi dan pengaruhnya terhadap kontribusi oranglain dalam hubungan
tersebut. Kanp merumuskan model tahapan hubungan yang menunjukkan bahwa orang
mempertimbangkan untuk menuju hubungan yang lebih akrab dengan orang lain. Akhirnya
Duck kembali mengemukakan bahwa hubungan antarpribadi dapat berakhir dan
biasanya melalui tahap-tahap intra psikis, tahap dyadic, tahap social, dan
tahap grave dressing.
Selasa, 14 Juni 2016
Teori Komunikasi Antarpribadi. Modul 2 "Memahami Orang lain dalam Komunikasi"
Komunikasi pribadi yang
efektif juga mensyaratkan kita untuk lebih memahami orang lain. Memahami orang
lain ini ditujukan untuk mengurangi ketidakpastian (uncertainty reduction) dan
perbandingan sosial (social comparison) terutama bagi yang baru saling
mengenal. Proses mempresepsi orang lain mencangkup implicit personality theory.
Proses atribusi, dan response sets. Implicit personality theory mengasumsikan
kita sebagai psikolog amatir yang mneggunakan perangkat psikologi untuk
mempresepsi orang lain. Proses atribusi mencoba untuk mengenali penyebab atau
pengendali atas suatu peristiwa kepada seseorang atau sesuatu. Sedangkan reponse
sets adalah predisposisi tertentu yang dilakukan untuk menanggapi orang lain.
Upaya untuk
mempengaruhi presepsi oranglain terhadap diri kita telah membuat kita
menerapkan sejumlah strategi. Impression management mengungkapkan bahwa orang
cenderung untuk mengarahkan presepsi orang lain terhadap dirinya. Rethorical sensitivity
mengajarkan orang untuk peka terhadap diri sendiri, situasi terutama orang
lain. Atributional respon adalah cara lain dari penggunaan proses atribusi
melalui perilaku kita sebagai reaksi atas tindakan oranglain. Sedangkan antarpribad
adalah tanggapan atau reaksi atas perilaku orang lain.
Teori Komunikasi Antarpribadi. Modul 2 "Memahami Diri Pribadi dalam Komunikasi"
Dalam komunikasi
antarpribadi, memahami diri pribadi merupakan suatu syarat yang mendasar. Diri pribadi
biasanya pusat dari proses komunikasi dan dengan memahami diri pribadi, kita
akan lebih memahami komunikasi yang kita lakukan.
Upaya kita untuk
memahami diri pribadi ini disebut presepsi, dimana melalui indra yang dimiliki,
kita menangkap informasi atas objek tertentu. Melalui alat pikir dan logika,
kita merepreentasikan informasi yang telah kita peroleh melalui pengindraan. Proses
ini memiliki subjektifivas tinggi dan beberapa kelemahan didalamnya. Presepsi memiliki
sifat-sifat : pengalaman selektif, penyimpulan, tidak akurat dan evaluative.
Sementara itu
elemen-elemen presepsi adalah sensasi/pengindraan, harapan, bentuk dan latar
belakang, perbandingan, konteks. Dari elemen-elemen kita dapat menemukan pola,
yaitu bentuk pengorganisasian yang
menciptakan suatu kesatuan yang utuh.
Langkah pertama
dalam presepsi adalah menyadari diri kita sendiri yaitu mengungkapkan apa dan
siapa kita ini. Beberapa elemen yang membentuk kesadaran diri adalah konsep
diri, self esteem, dan multiple selves. Sementara itu, kesadaran diri juga
merupaka proses yang akan terus-menerus berubah dan berkembang sepanjang hidup
kita. Adapaun konsep-konsep yang mempengaruhi perkembangan kesaran dan diri ini adalah “reflexive self, social self,
dan becoming self”.
(1) Reflexive self : kesadaran diri kita bersifat dua
arah. Apabila kita memandang kedalam cermin, kita tidak hanya melihat diri
kita. Tetapi juga melihat diri kita (yang dipantulkan oleh cermin) yang sedang
memandang kita. Kita berpresepsi bahwa diri kita terlibat dalam presepsi diri.
(2) Social self : menggunakan orang lain sebagai criteria
utuk menilai konsep diri kita. Ini juga sama seperti “looking glass self” yang
menggambarkan bagaimana kita mengembangkan konsep diri melalui interaksi. Dalam
interaksi, reaksi orang lain merupakan informasi mengenai diri kita, dan
kemudia kita menggunakan informasi tersebut untuk menyimpulkan, mengartikan, dan
mengevaluasi konsep diri kita seiring dengan meningkatknya interaksi sosial
yang sesuai. Hal ini membuat kita menjadi lebih efektif dalam komunikasi
antarpribadi.
(3) Becoming self : perubahan konsep diri tidak terjadi
secara mendadak atau drastic, melainkan secara gradual melalui aktivitas
sehari-hari kita.
Teori Komunikasi Antarpribadi. Modul 2 "Dimensi-Dimensi Pribadi dan Relasional"
Secara uum komunikasi
antar pribadi dapat diartikan sebagai suatu proses pertukaran makna antara
orang-orang yang saling berkomunikasi. Proses mengacu pada perubahan dan tindakan
(action) yang berlangsung terus menerus. Komunikasi adalah suatu pertukaran,
yaitu tindakan menyampaikan dan menerima pesan secara timbale balik. Sedangkan makna, sesuatu yang dipertukarkan
dalam proses tersebut.
Terdapat 6 karakteristik
yang menentukan apakah suatu kegiatan atau tindakan dapat disebut sebagai
komunikasi atarpribadi atau tidak menurut Judy C. Pearson (1983).
(1) Dimulai dengan diri sendiri (self). Presepsi komunikasi
yang menyangkut pengamatan dan pemahaman berangkat dari kita sendiri, artinya
dibatasi oleh pengalaman kita sendiri.
(2) Bersifat interaksional. Mengacu pada tindakan pihak
yang berkomunikasi secara serempak menyampaikan dan menerima pesan.
(3) Melibatkan siapa partner komunikasi kita dan
bagaimana hubungan kita dengan partner tersebut.
(4) Mensyaratkan adanya kedekatan fisik antara
pihak-pihak yang berkomunikasi.
(5) Melibatkan pihak yang saling tergantung satu dengan
yang lainnya (interdependen) dalam proses komunikasi.
(6) Komunikasi antarpribadi tidak dapat diulang. Apabila
kita salah mengucapkan mungkin kita bisa meminta maaf atau diberi maaf.
“Individu dalam
Komunikasi Antarpibadi”
Letak Lokus
Psikologis.
Proses
psikologis merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam komunikasi antarpribadi.
Komuikasi adlah asumsi bahwa diri pribadi individu terletak dalam suatu tempat
individu, dan tidak mungkin di=apat diamati secara langsung. Lokus psikologis
dari komunikasi mengasumsikan individu memiliki dua dimensi diri, yaitu :
Internal dan Eksternal.
Hal ini terjadi karena dalam komunikasi
antarpribadi kita mencoba menginterpretasika makna yang menyangkut diri kita
sendiri, diri oranglain dan hubungan yang terjadi. Fungsi psikologis dari komunikasi adalah
untukmenginterpretasikan tanda-tanda melalui tindakan atau perilaku yang dapat
diamati. Kita akan melakukan seleksi terhadap mana yang “palsu” dan mana yang “asli”.
Kesemuanya terjadi melalui satu proses pikir yang melibatkan penarikan
kesimpulan. Dalam komunikasi antarpribadi, masing-masing individu secara
simultan akan menggunakan tiga tataran yang berbeda, yaitu : Presepsi,
Metapresepsi, dan Metametapresepsi. Ketiga tataran ini akan mempengaruhi
sepanjang proses komunikasi.
Senin, 13 Juni 2016
Memahami Teori Komunikasi. Modul 1 "Empat Prespektif dalam Ilmu Komunikasi"
Terdapat 4 prespektif yang
mendasari pengembangan teori komunikasi. Keempat prespektif tersebut adalah :
Covering laws (hukum), Rules (aturan), System Theories (teori sistem), dan
symbolic Interactionism (simbolik interaksionisme).
Prespektif “Covering Laws”
berlandaskan pada prinsip “Sebab-Akibat” atau hubungan kausal. Prespektif
“Rules” berdasarkan prinsip praktis bahwa manusia aktif memilih dan mengubah
aturan yang menyangkut kehidupannya. Prespektif “System Theories” mempunyai
empat ciri :
(1)
Sistem adalah suatu keseluruhan yang teriri atas
bagian-bagian/unsur-unsur dengan karakterisiknya masing-masing.
(2)
Sistem berada secara tetap dalam lingkungan yang
berubah.
(3)
Sistem hadir sebagai reaksi atas lingkungan
(4)
Sistem merupakan koordinasi dari hierarki.
Prespektif “Simbolik
Interaksionisme” member penekanan pada penelaahan interaksi serta maknanya.
Memahami Teori Komunikasi Modul 1 "Komponen Konseptual dan Jenis-jenis Teori Komunikasi"
Terdapat 15 komponen konseptual
yang dapat dijadikan sebagai fokus dalam menganalisis fenomena komunikasi
(Frank E.X. Dance, 1976), yakni :
(1)
Simbol/tanda : Komunikasi adlah pertukaran pikiran
atau gagasan secara verbal (Hoben, 1954).
(2)
Pengertian/pemahaman : Suatu proses dimana kita bisa
memahami dan dipahami oranglain. Proses yang dinamis secara konstan bisa
berubah sesuai situasi yang berlaku (Andreson, 1959).
(3)
Interaksi/hubungan sosial : Interaksi juga dalam
tingkatan biologis. Suatu perwujudan komunikasi, tanpanya tindakan kebersamaan
tidak akan terjadi (Mead, 1963).
(4)
Pengurangan rasa ketidakpastian : Komunikasi
didorong timbul oleh kebutuhan-kebutuhan untuk mengurangi rasa ketidakpastian,
bertindak secara efektif, mempertahankan atau memperkuat ego (Barnlund, 1964).
(5)
Proses : Penyampaian informasi, gagasan, emosi,
keahlian, dan lain-lain emelalui penggunaan symbol seperti kata-kata, gambar,
angka, dll (Berelson & Steiner, 1964)..
(6)
Penyampaian/pertukaran : Komunikasi menunjuk kepada
apa yang dialihkan, alat apa yang dipakai sebagai saluran pengalihan, atau
menunjuk kepada keseluruhan proses upaya pengalihan.
(7)
Menghubungkan/menggabungkan : Proses yang
menghubungkan satu bagian dalam kehidupan dengan bagian lainnya (Reusch, 1957).
(8)
Kebersamaan : Proses yang membuat semula dimiliki
seseorang menjadi dimiliki dua orang atau lebih (Gode, 1959).
(9)
Saluran/alat : Komunikasi adlah alat pengiriman
pesan kemiliteran pemerintah/order, dll. Seperti “Telegraf, Telepon, Radio,
Kurir,dll” (American College Dictionary).
(10)
Replikasi memori : Proses mengarahkan perhatian
seseorang dengan tujuan mereplikasi memori (Cartier & Harwood, 1953).
(11)
Tanggapan diskriminatif : Komunikasi adalah
tanggapan diskriminatif dari suatu organisasi terhadap suatu stimulus (Stevens
1950).
(12)
Stimuli : Tindakan Komunikasi sebagai penyampaian
informasi yang berisikan stimuli diskriminatif, dari suatu sumber terhadap
penerima (Newcomb, 1966).
(13)
Tujuan/kesengajaan : Penyampaian pesan yang
disengaja dari sumber terhadap penerima dengan tujuan mempengaruhi tingkah laku
pihak pertama (Miller, 1966).
(14)
Waktu/situasi : Suatu transisi dari suatu
keseluruhan struktur situasi ke situasulain sesuai pola yang diinginkan
(Sondel, 1956).
(15)
Kekuasaan/kekuatan
: Komunikasi adalah suatu mekanisme yang menimbulkan kekuatan/kekuasaan
(Schacter, 1951).
Berdasarkan metode penjelasa dan
cakupan objek pengamatannya, teori komunikasi terdiri dari dua kelompok.
Pertama, teori-teori umum yang
mencakup :
Teori fungsional dan struktural :
Adanya kepercayaan atau pandangan tentang berfungsinya secara struktur yang
berada diluar diri pengamat. Seorang pengamat adalah bagian ddari sturktur dan
cara pandangnya juga akan dipengaruhi oleh struktur yang berada diluar dirinya.
Teori behavioral dan kognitif : Teori yang
berkembang dari psikologi dan ilmu-ilmu pengetahuan dan behavioralis lainnya
yang cenderung memusatkan pengamatan pada diri manusia secara individual. Teori
ini mengutamakan “verieble analytic” (alanisis variabel), mengidentifikasikan
variable kognitif yang dianggap penting serta mencari hubungan korelasi
diantara variable. Menurut pandangan teori ini, sebagai manifestasi dari
tingkah laku, proses berpikir, dan fungsi “bio-neural” dari individu. Karena
itu variable penentu yang mmegang peranan penting terhadap sarana kognisi
seseorang (termasuk bahaasa) biasanya berada diluar control dan kesadaran orang
tersebut.
Teori konvensional dan
interaksional : kehidupan sosial merupakan suatu proses yang membangun,
memelihara serta mengubah kebiasaan tertentu. Teori ini dianggap sebagai
perekat masyarakat (glue ofsociety). Kelompok teori ini berkembang dari aliran
pendekatan “interaksionisme simbolis” (symbolic interactionism) sosiologi dan
filsafat bahasa ordiner. Teori ini melihat struktur sosial sebagai produk
iteraksi. Fokusnya bukan terhadap struktur tetapi bagaiana bahasa yang
dipergunakan untuk membentuk struktur sosial, serta bagaimana bahasa dan
symbol-simbol lainnya direproduksi, dipelihara serta diubah dalam
penggunaannya. Menurut teori ini, makna dasarnya kebiasaan yang diperoleh
melalui interaksi. Sifat objektivitas dari makna adalah relative dan temporer.
Teori kritis dan interpretif : Pendekatan
teori interpretif cenderung menghindarkan sifat-sifat prespektif dan
keputusan-keputusan absolute tentang fenomena yang diamati. Yang hanya bersifat
tentative dan relative. Sedangan pendekatan teori kritis (critical theories)
cenderung menggunakan keputusan-keputusan yang absolute, prespektif dan juga
politis sifatnya.
Kedua, teori-teori kontekstual yang
meliputi teori-teori mengenai komunikasi intrapribadi (komunikasi yang terjadi
dalam diri seseorang), komunikasi antarpribadi (komunikasi yang bersifat
pribadi antarperorangan), komunikasi kelompok (komunikasi yang terjadi antara
orang-orang didalam kelompok), komunikasi organisasi (komunikasi yang terjadi
dalam konteks dan jaringan organisasi melibatkan formal dan informal
komunikasi), dan komunikasi massa (komunikasi yang ditujukan untuk khalayak
yang lebih besar).
Memahami Teori Komunikasi Modul 1 "Pengertian tentang Ilmu dan Teori dalam Komunikasi"
Ilmu Komunikasi adalah ilmu
pengetahuan tentang peristiwa komunikasi yang diperoleh melalui suatu
penelitian tentang system, proses, dan pengaruhnya yang dilakukan secara
rasional dan sistematik, serta kebenarannya dapat diuji dan digeneralisasikan.
Sementara itu, teori komunikasi menunjuk pada konseptualisasi atau penjelasan
logis mengenai fenomena paristiwa komunikasi dalam kehidupan manusia.
Penjelasn dalam teori didasarkan
atas 3 macam prinsip keperluan : Keperluan kasual, keperluan praktis, dan
keperluan logis. Berdasarkan fokusnya, penjelasan dalam teori terdiri atas dua
kategori : Person centered dan situation centered.
Secara umum, teori mempunyai 9 fungsi, yakni :
Mengorganisasikan dan menyimpulkan
: Mengamati realitas kita tidak boleh melakukannya sepotong-potong. Kita perlu
mengorganisasikan dan mensintesiskan hal yang terjadi dalam kehidupan.
Kesimpulan pola dan hubungan yang ditemukan mendapatkan hasil berupa teori
sebagai dasar studi berikutnya.
Memfokuskan : Aspek dari suatu objek harus
jelas fokusnya, menjelaskan tentang suatu hal bukn banyak hal.
Menjelaskan : Membuat suatu
penjelasan tentang hal yang diamatinya. Tidak hanya memahami pola dan hubungan
tetapi juga menginterpretasikan peristiwa tertentu.
Mengamati : Teori tidak hanya
menjelaskan apa yang yang sebaiknya diamati, tetapi juga member petunjuk
bagaimana cara mengamatinya. Teori yang baik berisikan konsep operasional yang
bisa dijadikan untuk mengamati hal yang rinci berkaitan dengan elaborasi teori.
Membuat prediksi : Prediksi adalah
suatu perkiraan atas apa yang akan terjadi sebagai gambaran apabila hal-hal
yang digambarkan oleh teori juga tercerminkan dimasa sekarang.
Heuristic : Aksioma umum
mengatakan, teori yang terbaik adalah teori yang mampu merangsang penelitian
sebagai upaya meragsang penelitin selanjutnya.
Komunikasi : Teori seharusnya tidak
menjadi monopoli sipenciptanya. Teori harus dipublikasikan, didiskusikan dan
terbuka terhadap kritikan-kritikan sebagai cara untuk memodifikasi dan
penyempurnaan teori.
Kontrol/mengawasi : Sifatnya
normative. Asumsi teori dapat berkembang menjadi norma atau nilai yang dipegang
dalam kehidupan. Teori sebagai pengendali’pengontrol tingkah laku kehidupan
manusia.
Generatif : Fungsi generative
menonjol dikalangan pendukung tradisi/aliran pendekatan interpretatif dan teori
kritis. Teori ini juga berfungsi sebagai sarana perubahan sosial dan cultural
serta untuk menciptakan pola dan cara kehidupan yang baru.
Pengembangan teori meliputi empat tahapan :
(1) Mengembangkan Pertanyaan “Developing Questions”
(2) Menyusun Hipotesis ”Forming
Hypotheses”
(3) Menguji Hipotesis “Testing The
Hypotheses”
(4) Memformulasikan Teori “Formulating
Theory”
Untuk mengevaluasi kesahihan teori
ada lima patokan yang dapat dipergunakan yakni : Cakupan teoritis, kesesuaian,
heuristic, validitas, dan parsimony (kesederhanaan).
Langganan:
Postingan (Atom)